PENDAHULUAN
Dengan memanjatkan puji syukur alhmdulillahirobbil’alamin atas berkat dan nikmat, rahmat dan hidayah-Nya serta segala karunia yang selalu mengalir disepanjang waktu dan rasa bahagia yang menyejukkan hati bagi hamba-Nya yang beriman dan beramal sholih, semua itu adalah titah kehendak-Nya. Dan mungkin tidak berlebihan sekiranya kita mengiringkan do’a semoga atas segala jerih payah dan I’tikad baik kita yang terungkap melalui tutur kata dan tingkah laku, melalui angan-angan dan perasaan ate segala aktifitas bagaimanapun bentuknya, mudah-mudahan disambut oleh ridho Allah SWT.
Rahmat dan salam sejahtera abadi teruntuk junjungan Nabi besar Muhammad SAW, para keluarga dan juga sahabat-sahabatnya yang telah mendapatkan petunjuk, tiada terkecuali bagi umat islam yang mengikuti jejak nabi dan para sahabat-sahabat yang mendapat petunjuk itu.
Untuk selanjutnya, dengan tiada mengurangi rasa hormat, dengan penuh kerendahan hati penulis sajikan sebuah buku yang berjudul “PEDOMAN PRAKTIS MEMPELAJARI BAHASA ARAB” untuk pegangan kaum Muslimin Muslimat yang ingin studi mendalami bahasa Arab yang menjadi bahasa Al-Qur’an.
Dengan terbitnya buku ini semoga dapat membantu/memperluas mempelajari bahasa Arab. Tentu saja buku ini masih juga jauh dari sempurna, serta banyak kesalahan-kesalahan, tegur sapa dari siapa saja penulis terima dengan senang hati.
Dan akhirnya penulis berharap semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya penulis dan kaum muslim seluruhnya.
Akhirnya semoga buku ini melahirkan kemanfaatan yang diridhoi Allah. Amien…
Salatiga, 1 juli 1991
Penyusun
Drs. H. nasafi
BAB I
KALIMAH DAN MACAM MACAMNYA
A. PENGERTIAN KALIMAH (KATA)
الكلمة : لفظ له معنى
Artinya : kalimah (kata) adalah lafal yang mempunyai makna atau arti.[1]
Sebelum dibahas lebih jauh tentang pengertian kalimah, perlu dijelaskan mengenai istilah kalimah dalam bahasa indonesia.
Barang kali kita masih terkesan dalam pelajaran bahasa Indonesia, bahwasanya kalimat adalah merupakan susunan dari kata kata. Akan tetapi kalimah atau dapat juga disebutkan kalimat, yang akan dijelaskan dalam pembahasan ini adalah mempunyai arti yang berbeda dengan kalimat yang kita kenal dalam bahasa Indonesia.
Tadi telah kita jelaskan bahawa kalimat (dalam bahasa Indonesia) adalah merupakan susunan kata, akan tetapi dalam bahasa Arab yang dimaksud dengaan kalimah/kalimat adalahberarti “kata” dalam bahasa Indonesianya. Sedangkan kalimah yang tersusun, atau terangkai (dari satu kalimah dengan kalimah lainya) hal itu dalam bahasa Arab disebut “kalam atau jumlah”.
Untuk selanjutnya kita kenal kalimah sempurna dan kalimah tidak sempurna dan sebagainya. Yang jelas hal ini untuk mengantarkan pengartian kita terhadap “kalimah” dalam ilmu bahasa Arab.
Berikut marilah kita perhatikan amsilah (contoh-contoh) tentang kalimah (kata), yakni :
١ – اجتهد محمّد فى العمل
٢ – ذهب أحمد إلى المدرسة
Apabila kita perhatikan, bahwa pada contoh nomor satu ada susunan kalimah (kata) yang terdiri dari
١ – اجتهد ٢ - محمّد
٣ – فى ٤ - العمل
Sedangkan pada contoh nomor dua terdapat susunan kalimah (kata),
١ – ذهب ٢ - أحمد
٣ – إلى ٤ - المدرسة
Sekarang marilah kita memperhatikan betul-betul bahwa kalimah (kata)
العمل , فى , محمّد , اجتهد
Masing-masing telah menunjukkan artinya dan mempunyai pengertian. Namun setiap kalimah tersebut belum menunjukkan pada pengertian yang sempurna melainkan apabila setiap kalimah atau kata-kata tersebut telah disusun atau dirangkaikan dari kata satu dengan kata yang lainnya.
Susunan kalimah atau susunan yang terjadi dari kumpulan kata-kata itu, adalah yang disebut dalam bahasa Arab yaitu dengan istilah “jumlah”.
الجملة هي الكلام المفيد ويتألف من فعل وفاعل أو مبتداء وخبر
Artinya : Al-jumlah adalah kalimat yang mempunyai pengertian secara utuh, yang tersusun dari fi’il dan fa’il atau mubtada’ dan khobar.[2]
B. MACAM-MACAM KALIMAH (KATA)
تنحصر الكلمات فى ثلاثة أنواع : إسم , وفعل , وحرف.
Artinya : kalimah itu dibagi menjadi tiga macam : isim, fi’il dan harf/huruf.
1. Kalimah isim (kata benda)
Kalimah isim mempunyai pengertian :
الإسْمُ هِيَ كُلُّ كَلِمَةٍ تَدُلُّ عَلى إنْسَانٍ أوْ حَيَوَانٍ أو نَبَاتٍ أوْ جمادٍ أو مكانٍ أو زمان أو صِفَةٍ أو معنى مجرّد من الزمانِ .
Artinya : Isim adalah tiap-tiap kalimah yang menunjukkan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda, tempat, sifat, atau arti yang bebas dari waktu.[3]
Contoh :
a) Muhammad telah membaca kitab قراء محمّد الكتاب
b) Fatimah telah memetik bunga قطفت فاطمة الزّهرة
Pada contoh di atas kita dapat menjumpai kata الزّهرة , الكتاب , محمّد masing-masing kata tersebut menunjukkan manusia, nama barang dan nama tumbuh-tumbuhan. Nama-nama seperti itulah yang disebut dengan “isim” (الإسم), atau dapat disebut kata benda.
2. Kalimah fi’il (kata kerja)
Kalimah fi’il atau kata kerja berpengertian :
الفِعْل هو كُلّ كَلمَة تَدُلّ عَلى حدوثِ شيئ فى الزّمان الخاص
Artinya : kalimah fi’il adalah tiap-tiap kalimat atau kata yang menunjukkan atas terjadinya suatu pekerjaan pada waktu tertentu.[4]
Contoh : الأمثلة
a) Muahmmad telah menulis pelajaran كتب محمّد الدّرس
b) Zaid sedang membaca al-Qur’an يقراء زيد القران
c) Dengarkanlah azan اسمع الأذان
Dari contoh di atas kita menjumpai kata-kata كتب yang berarti telah menulis, ini berarti menunjukkan waktu yang telah lampau atau pekerjaan yang sudah berlalu, kemudian ada kata يقراء yang mempunyai arti sedang membaca, ini berarti menunjukkan waktu dikatakan atau diucapkannya kata-kata tersebut menunjukkan keadaan seseorang yang benar-benar sedang melakukan sesuatu pekerjaan. Dan pada contoh nomor tiga terdapat kata اسمع yang mempunyai arti perintah untuk mengerjakan sesuatu, di mana pada waktu itu pekerjaan itu belum dilakukan, maka ini berkaitan dengan waktu yang akan terjadi.
Dari seluruh kalimah (kata) yang meunjukkan pada suatu pekerjaan sesuai dengan sifat-sifat waktu, kapan pekerjaan itu dilakukan oleh subyek yang melakukan pekerjaan itu, maka kata (kalimah) tersebut yang disebut fi’il sesuai dengan pengertian kaidah di atas.
3. Kalimah huruf
Kalimah huruf adalah :
الحرف هو كل كلمة ليس لها معنى إلا مع غيرها
Artinya : huruf adalah tiap-tiap kalimah yang kalimah tersebut tidak mempunyai arti yang sempurna kecualidihubungkan dengan kalimah atau kata-kata lainnya.[5]
Contoh : الأمثلة
1) Muhammad membaca al-Qur’an di dalam majlis يقراء محمّد القران فى المسجد
2) Ali dan Umar pergi ke pasar علي وعمر يذهبان إلى السوق
Pada susunan kalimat di atas, kita menjumpai kalimat (kata) فى dan kata إلى kataفى mempunyai arti di atau di dalamsedangkan kata إلى mempunyai arti ke atau kepada, kata-kata tersebut belum menunjukkan arti yang memahamkan sehingga perlu dihubungkan atau disertai kata-kata yang lain seperti contoh di atas ditulis إلى السوق artinya ke pasar (menunjukkan arah yang jelas) dengan demikian menjadi dapat dimengerti makna kata tersebut.
C. CIRI-CIRI KALIMAH
Untuk mempermudah kita dalam mengkaji bahasa Arab, terutama dalam pembahasan kalimah dan macam-macamnya yang perlu kita mengenali ciri-ciri dari kalimah atau kata-kata yang baru saja kita bahas di muka.
Adapun ciri-ciri dari kalimah (kata) tersebut kita urai berikut ini :
1. Ciri-ciri kalimah (kata) isim
Ada beberapa macam yang menjadi ciri-ciri kalimah isim, yakni :
a. Bahwa kalimah tersebut ada tanwinnya contoh : كتابٌ ، محمّدٌ ، شجرةٌ
b. Kalimah tersebut dapat dimasuki alif lam (ال) contoh : المسلم ، المسجد ، المدرسة
c. Kalimah tersebut memungkinkan adanya nida’ (نداء) contoh : يا نساء ، يا محمد ، يا رجل
d. Kalimah tersebut memungkinkan untuk dijerkan baik dengan huruf jer maupun dengan susunan idlofah. Contoh : جاء رسول اللهِ ، مررت بمساجدِ
2. Ciri-ciri kalimah fi’il
Ada beberapa macam yang menjadi cirri-ciri kalimah fi’il, yakni :
a. Kalimah tersebut dapat bertemu tak fa’il نون توكيد tak yang menunjukkan arti pelaku. Contoh : لنكتبنّ، لننصرنّ
b. Kalimah tersebut dapat bertemu dengan yak mukhatobah تاء تاءنيث yang menunjukkan orang kedua perempuan. Contoh : أكتبي، أكتبين
c. Kalimah tersebut dapat bertemu dengan nun taukid نون توكيد nun yang berfungsi untuk menguatkan. Contoh : لنكتبنّ ، لننصرنّ
d. Kalimah tersebut dapat bertemu dengan tak taknist تاء تاءنيث tak yang menunjukkan perempuan. Contoh : كذبت ، ضربت
e. Kalimah tersebut dapat dimasuki huruf qod قد huruf yang berfungsi untuk menguatkan. Contoh : قد يقوم ، قد قامت
f. Kalimah tersebut dapat dimasuki hurif sin س . contoh : سيضرب ، سيقول
g. Bahwa kalimah tersebut dapat dimasuki kata saufa سوف . contoh : سوف تعلمون ، سوف يضحكون
Demikian itu ciri-ciri dari pada kalimah (kata) isim dan fi’il, sedangkan pada kalimah huruf tidak terdapat ciri-ciri yang maton sehingga pada pembahasan ini tidak kita sertakan, dan kalimah huruf itu juga banyak di antaranya adalah huruf jer.
اقراء الجمل الأتية وبيّن الأسماء التى تدل على اشخاص والتى تدلّ على حيوان والتى على نبات والتى تدلّ على جماد !
١ – فريد يجري فى الشّارع
٢ – علي يركب الحمار
٣ – الكلب ينام فى البستان
٤ – افترس الذئب كبشا
٥ – يحبّ الولد البرتقال
٦ – يحترق الحطب
٧ – يتسلق الغلمان الجبل
٨ – يسبح الأولاد فى البحر
اقراء الجمل الأتية وميّز الأسماء، والأفعال ، والحروف
١ – يفتح محمّد الباب
٢ – يشترى التّاجر القطن
٣ – يزرع الفلاّح القصب
٤ – يقراء سعيد الكتاب
٥ – يدخل الهواء فى الحجرة
٦ – الثّمر يساقط على الأرض
٧ – الثور يحرث الأرض
٨ – تصنع الأخدية من الجلد
٩ – العصفور يغرّد على الشّجرة
١٠ – يذهب العمّال إلى المصانع
١ ) ايت بخمس جمل تبتدئ كلّ منها يفعل
٢ ) ايت بخمس جمل يتوسّط كلاّ منها فعل
٣ ) ايت بخمس جمل يبتدئ كلّ منها بحرف
٤ ) ايت بخمس جمل يتوسط كلا منها حرف
١ ) ايت بخمس جمل مبدؤة بأسماء تدل على اشخاص
٢ ) ايت بخمس جمل تنتهى كل واحدة منها بأسماء يدل على حيوان
٣ ) ايت بخمس جمل تبتدئ كلّ واحدة منها بإسم يدل على حيوان
٤ ) ايت بخمس جمل تنتهى كل واحدة منها بإسم يدل على نبات
الجمل الأتية يحتاج كلّ منها إلى إسم . فصح الإسم المناسب فى المكان الخالى !
١ – العصفور مسجون فى....
٢ – يقراء محمّد ....
٣ – تبيضّ .....
٤ – يطيع .... أباه
٥ – الحصان يجرى ....
٦ – الفاءرة يخاف من ....
٧ – يشتدّ .... فى الصيف
٨ – يسبح السمك فى .....
الجمل الأتية يحتاج كل منها إلى فعل ، فضع الفعل المناسب فى المكان الخالى !
١ – الحصان .... الشعير ٥ – المريض .... الشفاء
٢ – الثور .... العجلة ٦ – الولد .... بالكرة
٣ - .... محمود الغصن ٧ – .... النجار بابا
٤ – الطبيب .... المريض ٨ – الخادم .... النافذة
الجمل الأتية يحتاج كل منه إلى حرف ، فضع الحرف المناسب فى المكان الخالى !
١ – يسبح الغلام ..... النهر
٢ – يذهب التلميذ .... المدرسة
٣ – قطعت الحبل .... بالسكّين
٤ – يعود الغريب .... بلده
٥ – نام الطفل .... السرير
٦ – يرضى المعلم .... التلميذ المؤدّب
BAB II
ISIM DAN FI’IL
A. ISIM
1. Isim ditinjau dari jenisnya
Isim ditinjau dari segi jenisnya ada dua macam, yakni isim muannats (إسم مؤنث) dan isim mudzakar (إسم مذكر). Yang dimaksud dengan isim muannats adalah tiap-tiap kata benda yang menunjukkan perempuan, sedangkan yang disebut isim mudzakkar adalah tiap-tiap kata benda yang menunjukkan laki-laki.
Contoh : الأمثلة
1) Ibrahim sedang membaca يقراء إبراهيم
2) Muhammad sedang menulis يكتب محمد
3) Ali sedang pergi يذهب علي
4) Dinding itu luas الجدار واسع
5) Kursi itu indah الكرسي جميل
Pada contoh-contoh di atas ini, cobalah anda memperhatikan benar-benar, tentu anda akan mendapati kata-kata، علي ، إبراهيم جميل، إبراهيم، واسع kata-kata tersebut menunjukkan jenis laki-laki atau yang disebut dengan isim mudzakar (إسم مذكر) karena pada kata-kata tersebut tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan tanda jenis perempuan.
Selanjutnya coba anda perhatikan pada contoh-contoh berikut ini :
Contoh : الأمثلة
1) Bunga itu indah الزهرة جميلة
2) Papan tulis itu besar السبّورة كبيرة
3) Fatimah anak yang rajin فاطمة مجتهد
4) Aisyah sakit عائشة مريضة
5) Mobil itu baru السيارة جديدة
Pada contoh-contoh di atas ini, kita menemukan kata-kata مريضة، مجتهدة،كبيرة، جميلة، جديدة kata-kata inilah yang disebut dengan isim muannas (إسم مؤنث) karena terdapat tanda-tanda atau sifat-sifat yang menunjukkan jenis perempuan, yakni adanya tanda ta’ marbuthoh تأ مربوطة(ة) maka di dalam bahasa Arab tiap-tiap kata yang menunjukkan jenis perempuan dan mempunyai tanda perempuan seperti tersebut di atas disebut dengan isism muannast (إسم مؤنث)
Perlu untuk diperhatikan, bahwasannya di samping isim muannast yang telah tersebut di atas, masih terdapat nama-nama yang tidak memiliki tanda-tanda perempuan seperti yang kita sebutkan di atas, akan tetapi kata-kata tersebut juga digolongkan dalam kategori isim muannast. Misalnya :
a. Nama-nama anggota badan
1) Telinga أذن 3) mata : عين
2) Kaki : رجل 4) tangan : يد
b. Nama benda alam
1) Awan : سحاب 4) api : نار
2) Langit : سماء 5) bumi : أرض
3) Matahari : شمش 6) jalan : شارع
2. Isim ditinjau dari segi bilangan
Isim ditinjau dari segi bilangannya ada tiga yaitu : isim mufrod (إسم مفرد), isim mutsanna (إسم مثنى), dan isim jamak (إسم جمع)
Yang disebut isim mufrod adalah tiap-tiap isim yang menunjukkan jumlah bilangan dan pada bilangan tersebut hanya terdiri dari “satu/sebuah” saja banyaknya. Sedangkan isim mutsanna adalah isim yang bilangannya terdiri dari “dua” atau menunjukkan lebih dari satu dan kurang dari tiga. Adapun isim jamak adalah isim yang menunjukkan banyaknya bilangan atau hitungan terdiri dari tiga atau lebih. Untuk lebih jelasnya coba kita perhatikan contoh berikut ini.
Contoh : الأمثلة
1) Pena itu baru القلم جديد
2) Sekolahan itu besar المدرسة كبيرة
3) Guru itu pandai الأستاذ ماهر
4) Dua pedagang itu pergi ke pasar التاجران يذهبان إلى السوق
5) Dua petani itu rajin الفلاحان مجتهدان
6) Dua laki-laki naik sepeda الولدان يركبان الدراجة
7) Para siswa menulis pelajaran التلاميذ يكتبون الدرس
8) Kursi-kursi itu baru الكراسي جديدة
9) Buku-buku itu bermanfaat الكتب نافعة
Pada contoh nomor satu sampai nomor tiga kita menjumpai kata المدرسة، القلم ، الأستاذ sedangkan pada nomor empat sampai nomor enam kita menemukan kata الفلاحان، التاجران ، الولدان begitu pula yang terdapat pada nomor tujuh sampai sembilan kita menemukan kata التلاميذ ، الكراسي ، الكتب pada contoh tersebut telah memperjelas pada uraian di atas tentang pengertian isim mufrod, isim mutsanna, dan isim jamak. Pada nomor satu sampai nomor tiga terdapat isim-isim mufrod, sedang pada nomor empat sampai enam menunjukkan isim mutsanna dan nomor tujuh sampai sembilan isim jamak.
B. FI’IL
Fi’il atau kata kerja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : fi’il madhi (فعل ماضى) fi’il mudhori’ (فعل مضارع) dan fi’il amar (فعل أمر).
1. Fi’il madli
Fi’il madli adalah tiap-tiap kata kerja yang menunjukkan suatu perbuatan atau pekerjaan pada waktu yang telah lampau.
Contoh : الأمثلة
1) Ali telah pergi ke pasar ذهب عليّ إلى السّوق
2) Petani pulang dari sawah رجع الفلاّح من المزرعة
3) Murid-murid telah pulang dari sekolah رجع التلميذ من المدرسة
4) Pak guru telah masuk ke dalam kelas دخل الأستاذ فى الفصل
5) Umar telah menulis pelajaran كتب عمر الدرس
Sesuai dengan makna terjemahannya, kita dapat memahami bahwa kata kerja tersebut menunjukkan pekerjaan atau suatu kejadian yang lampau atau yang telah lalu. Maka setiap kata kerja yang menunjukkan pengertian tersebut dalam bahasa Arab dikenal sebagai kata kerja lampau atau fi’il madli (فعل ماض).
2. Fi’il mudlori’
Fi’il mudlori’ adalah tiap-tiap kata kerja yang menunjukkan suatu perbuatan/pekerjaan/kejadiannya sedang berlangsung sekarang atau yang akan datang.
Contoh : الأمثلة
a) Fatimah sedang pergi ke pasar تذهب فاطمة إلى السوق
b) Ali sedang menulis surat يكتب علي الرسالة
c) Aminah sedang menangis تبكي أمينة
d) Bakar akan pergi ke jakarta besuk يذهب بكر إلى جاكرتا غدا
e) Ayah akan pulang dari kota Semarang besuk pagi يرجع الأب من السمارنج غدا
Dari contoh di atas kita menjumpai kata-kata seperti : يذهب ، تبكي ، تذهب ، يرجع. sesuai dengan maksud yang dikehendaki oleh yang membicarakan, bahwa pada kalimat susunan tersebut di atas menunjukkan suatu pekerjaan atau perbuatan yang akan dilakukan atau sedang dilakukan. Maka tiap-tiap kata seperti itu disebut dengan fi’il mudlori’ (فعل مضارع)
3. Fi’il amar
Fi’il amar adalah tiap-tiap fi’il atau kata kerja yang dipergunakan untuk suatu pekerjaan tertentu, pada waktu yang akan datang, meminta untuk dilaksanakannya suatu pekerjaan, atau untuk memerintah (kata perintah atau kata suruh).
Contoh : الأمثلة
1) Pergilah ke masjid إذهب إلى المسجد
2) Dengarkan radio itu إسمع المذياع
3) Keluarlah dari kelas أخرج من الفصل
4) Katakanlah yang benar قل الحقّ
5) Masuklah dengan selamat dan aman أدخل بسلام امنين
Dari contoh-contoh ini kita menjumpai kata-kata اذهب ، إسمع ، أخرج، قل ، أدخل sesuai terjemahan yang anda temukan pada contoh tersebut, fi’il-fi’il tersebut untuk memberikan perintah agar orang lain melakukan sesuatu sesuai dengan fi’il atau kata kerja yang dipergunakan atau dikehendaki. Maka tiap-tiap kata kerja atau fi’il yang dibentuk dalam kata perintah di dalam bahasa Arab disebut dengan fi’il amar (فعل أمر).
التمرينات
١ – عيّن المفرد والمثنى والجمع فيما يأتى !
اعلام ، طائرتين ، مدفع ، ميادين ، وردتين
علم ، طائرة ، عاملان ، صفون ، دبابة ، محترعون ، مخاصمان
٢ – بيّن أنواع الجموع فيما يأتى !
كتائب ، غواصات ، متعلمون ، طائرات ، قدائف ، مهندسون
٣ – أذكر مفرد كلّ من الجموع الأتية !
حروب ، أنبياء ، كتب ، حراس ، جنود ، منازل
٤ – عين الأفعال ونوعها فى الجمل الأتية !
١ )- احسن إلى الفقراء
٢ )- اتنزه فى الحقول
٣ )- ارتفع ماء النيل
٤ )- نم مبكرا ، واستيقظ مبكرا
٥ )- حصد الفلاحون الأرز
٦ )- خرج محمد ونسى كراسيه
٧ )- يعلوا قدر الإنسان بفصاحة اللسان
٨ )- ساعد الضعيف ، يساعدك الله
٥ – ضع فعلا مناسبا فى كل مكان خال فيما يأتي ، وبيّن نوعه !
١ )- .....الذئب الغنم ف........عليها و........واحدة منها...ثمّ....مسرعا
٢ )- فى فصل الشتاء ....البرد ف....النّاس ملابس ثقيلة، ل......على صحّتهم
٣ )- ......بصحتك و.........اللعب وعملك و......فصائح معلمك
٦ – هات فعل مضارع والأمر للأفعال الماضية الأتية، ثمّ ضعه فى جملة مفيدة !
كتب ، سافر ، اطعم ، ساعد ، اقبل
٧ – هات فعل الماضى للأفعال لمضارعة والأفعال الأتية !
استقبل ، يستحسن ، خذ ، يرجو ، اشرب
BAB III
MABNI DAN MU’ROB
A. MUKADDIMAH
Sebelum kita memasuki pada pembahasan mabni dan mu’rob, terlebih dahulu kita fahami istilah-istilah yang ada kaitannya dengan pembahasan mabni dan mu’rob.
Istilah yang dimaksud adalah : I’rob dan bina’ الإعراب والبناء
Yang dimaksud dengan i’rob (الإعراب)
الإعراب : تغيير اواخر الكلمة لاختلاف العوامل الدّاخلة عليها، ويكون ظاهرا وغير ظاهر . وأنواعه اربعة : الرفع والنصب يشتركان فى الأسماء والأفعال، والجرّ يختصّ بالأسماء والجزم يختصّ بالأفعال .
Artinya :
I’rob adalah perubahan pada akhir kalimah (kata) dikarenakan adanya perubahan amil yang masuk padanya, baik secara jelas atau tidak jelas, yang terdiri dari empat alamat atau tanda yakni : rafa’ dan nasab untuk fi’il dan isim, sedang jer untuk isim dan jazm untuk fi’il. [6]
Adapun yang dimaksud dengan bina’ (البناء)
البناء : لزوم اخر الكلمة حالة واحدة فى جميع التركيب، وأنواعه اربعة : البناء على السكون ، البناء على الفتح ، البناء على الضمّ البناء على الكسر.
Artinya : bina’ adalah ketetapan pada akhir suatu kalimah (kata) pada suatu bentuk dalam semua susunan kalimah. Dan macamnya ada empat yakni : bina’ dengan tanda sukun, bina’ dengan tanda fathah, bina’ dengan tanda dlomah dan bina’ dengan tanda kasroh. [7]
B. MABNI
1. Pengertian Mabni
المبنى : كل كلمة لزم اخرها حالة واحدة فى جميع التركيب
Artinya :
Mabni adalah tiap-tiap kalimah (kata) yang huruf akhirnya tetap pada suatu bentuk di dalam semua susunan (susunan kalimah). [8]
١ - من راقب الله فاز
خيركم من حفظ الأمانة
أحبّ من يحبّنى
٢ - قراء أخي الكتاب
عليّ قراء الرسالة
٣ - هؤلاء أبطال
أحبّ النّاس إلى هؤلاء الشّجعان
Dari contoh nomor satu di atas, pada susunan kalimah tersebut kita menjumpai kata من yang diulang-ulang, akan tetapi meskipun kata tersebut diulang-ulang serta mempunyai kedudukan yang berbeda dalam susunan kalimat tersebut, tetap tidak mengalami perubahan. Begitu pula pada contoh susunan kalimat nomor dua kita mendapat kata-kata قراء dan pada nomor tiga kata هؤلاء
Pada contoh-contoh di atas, baik kata من, قراء, dan هؤلاء di mana tempatnya dan bagaimanapun kedudukannya, kata-kata tersebut tidak mengalami perubahan. Maka sesuai dengan pengertian (kaidah) tentang mabni, jenis-jenis kata seperti itulah yang disebut dengan kata mabni.
2. Macam-macam Mabni
Ada dua macam yang tergolonng dalam kalimah (kata) mabni. Yaitu :
a. Isim Dlomir (kata ganti), yang meliputi orang pertama, orang kedua dan orang ketiga.
1) Orang pertama tunggal (mutakallim wahdah) أنا
2) Orang pertama jama’ نحن
b. Orang kedua laki-laki (Mukhothob) dan orang dua perempuan (Mukhotobah)
1) Mukhathab : أنت ، أنتما ، أنتم
2) Mukhothobah : أنتِ ، انتما ، انتنّ
c. Orang ketiga laki-laki (ghoib) dan orang ke tiga perempuan (ghoibah).
1) Ghoib : هو ، هما ، هم
2) Ghhoibah : هي ، هما ، هنّ
d. Isim Isyaroh. (kata penunjuk)
هذا ، هذان ، هتان ، هذه ، هؤلاء ، تلك ، هتاك ، هنالك ، ذالك ، اولئك
e. Isim Syarat
من ، مهما ، ان
f. Semua fi’il madli
Contoh : كتب ، كتبا ، كتبوا
g. Semua fi’il amar
Contoh : إقراء ، إقراءا ، إقرؤا
h. Fi’il mudlori’ apabila bertemu dengan nun taukid dan nun inats
Contoh : لأكتبنّ ، يرضعن
i. Semua kalimah (kata) huruf
Contoh : من ، إلى ، فى ، على ، عن
j. Isim Mausul
الذى ، التى ، الذان ، اللتان ، الذين ، اللاء
C. MU’ROB
1. Pengertian Mu’rob
المعرب : كلمة يتغير اخرها بتغيير العوامل
Artinya : mu’rob adalah kalimah (kata) yang huruf akhir pada kalimah itu dapat mengalami perubahan karena perubahannya amil. [9]
Contoh : الأمثلة
١ – جاء الرجل من السوق
٢ – رأيت الرجل يحمل الحقيبة
٣ – مررت بالرجل
Marilah kita perhatikan kata الرجل pada contoh nomor satu, ia dibaca rafa’ (dlomah). Kemudian kata الرجل pada contoh nomor dua dibaca nasab (fathah). Sedangkan pada contoh nomor tiga dibaca jer (kasroh).
setelah kita bandingkan kata الرجل dari contoh nomor satu, dua dan tiga ternyata pada huruf akhir kata-kata tersebut mengalami perubahan, maka, sesuai dengan pengertian (kaidah) tentang mu’rob di atas, apabila kita menjumpai tiap jenis kata seperti itu disebut dengan kata mu’rob.
Perubahan-perubahan itu dikarenakan adanya perbedaan amil yang masuk pada susunan kalimat tersebut.
2. Macam-macam kalimah (kata) mu’rob
Ada beberapa macam yang tergolong dalam kalimah (kata) mu’rob, yaitu:
a. Isim mufrod (إسم المفرد), tiap-tiap kata yang menunjukkan arti tunggal.
Contoh : قلم ، مرسم ، كتب
b. Isim ta tasniyah (إسم تثنيّة), tiap-tiap kata yang menunjukkan arti dua.
Contoh : قلمان ، كتبان ، كرسيان
c. Jama’ muannats salim (جمع مؤنث سالم), tiap-tiap kata yang menunjukkan jumlah banyak perempuan (3 ke atas) biasanya diakhiri alif dan ta’.
Contoh : مسلمات ، مدرسات ، معلمات
d. Jama’ mudzakar salim (جمع مذكر السالم), tiap-tiap kata yang menunjukkan jumlah banyak laki-laki, biasanya diakhiri dengan wawu dan nun, serta ya’ dan nun.
Contoh : مسلمون ، معلمون ، مسلمين ، معلمين
e. Jama’ taksir (جمع تكسير), kata yang menunjukkan arti banyak tidak beraturan.
Contoh : كراسي ، مساجد ، كتب ، بيوت
f. Asma’ul khosah (isim lima)
Contoh : أب ، أخ ، حم ، فو ، ذوا
أبوك ، أخوك ، حموك ، فوك ، ذومال
g. Fi’il mudlori’ apabila tidak bertemu dengan nun taukid dan nun inats
Contoh : يضرب ، يفعل ، يقراء
h. Af’alul khosah
يضربون ، يضربان ، تضربون ، تضربان ، تضربين
Inilah pembahasan mabni dan mu’rob. Dan mestinya kita masih teringat pada muqoddimah bab II, kita singgung mengenai hal i’rob dan bina’, karena hal itu sangat penting untuk diketahui dalam membahas lebih jauh tentang mabni dan mu’rob.
Dan berikut ini akan banyak kita telaah tentang i’rob dan seluk beluknya.
Pada pengertian i’rob (إعراب), di sana dijelaskan, bahwa i’rob mempunyai empat macamalamt yaitu : rafa’, nasab, jer, dan jazm.
Berikut ini kita jelaskan masing-masing bagian dari alamat i’rob tersebut :
1) I’rob rafa’
I’rab rafa’ mempunyai empat macam alamat/tanda yaitu : dlomah, alif, wawu dan nun. Tanda atau alamat dlomah adalah merupakan alamat rafa’ yang asli, maka di dalam istilah ilmu nahwu disebut (أصلية). Sedangkan alif, wawu dan nun adalah alamat/tanda rafa’ yang tidak asli, yang di dalam ilmu nahwu disebut dengan (نيابة) atau alamat/tanda pengganti.
a. Dlomah menjadi alamt/tanda rafa’ berada pada empat tempat.
a) Pada isim mufrod جاء الرجلُ
b) Pada jama’ taksir جاء الرجال
c) Pada jama’ muannats salim جاءت المسلمات
d) Pada fi’il mudlori’ yang shohihul akhir (yang pada akhir kalimat tersebut tidak bertemu dengan wawu jama’, alif tasniyah, ya’ muannats mukhotobah dan nun inats).
Contoh : ينصر محمّد فاطمة
b. Alif menjadi tanda rafa’ hanya menempati pada satu tempat. Yaitu pada isim tastniah
Contoh : جاء الرجلان
c. Wawu menjadi tanda i’rob rafa’ berada pada dua tempat
· Pada jamak mudzakar salim جاء المسلمون ، جاء المعلمون
· Pada asma’ul khamsah جاء أبوك ، جاء أخوك
d. Nun menjadi alamat/tanda i’rab rafa’ berada pada satu tempat, pada af-alul khamsah
Contoh : يفعلان ، يفعلون ، تفعلان ، تفعلون ، تفعلين
2) I’rab nasab
I’rab nasab mempunyai lima alamat/tanda, yaitu : fathah, alif, ya’ kasrah dan hadfu nun (حذف النون) membuang nun. Fathah adalah merupakan alamat/tanda nasab yang asli, maka di dalam ilmu nahwu disebut (الأصلية) sedangkan alif, yak, kasrah dan hadfu nun adalah : alamat/tanda nasab yang tidak asli. Di dalam ilmu nahwu disebut niabah (pengganti).
a. Fathah menjadi alamat/tanda i’rab nasab berada pada tiga tempat.
Ø Berada pada isim mufrad
Contoh : رأيت زيدا
Ø Pada jamak taksir
Contoh : رأيت الرجال
Ø Pada fi’il mudlori’ yang shohihul akhir dan kemasukan huruf nasab
Contoh : لن ينال ، لن ينجح
b. Alif menjadi alamat i’rab nasab berada pada satu tempat, yaitu pada asmaul khamsah.
Contoh : رأيت أباك ، رأيت أخاك
c. Kasrah menjadi alamat/tanda i’rab nasab berada pada satu tempat, yaitu berada pada jama’ muannats salim.
رأيت المسلمات
d. Ya’ menjadi alamat/tanda i’rab nasab berada pada dua tempat
Ø Pada isim tasniyah
Contoh : رأيت الرجلين
Ø Pada jamak mudzakar salim
Contoh : رأيت المسلمين
e. Hadzfun nun (membuang nun) menjadi alamat i’rab nasab berada pada satu tempat, pada af-alul khamsah.
Contoh : لن يضربا ، لن يضربوا ، لن تضربى ، لن تضربا ، لن تضربوا
3) I’rab jer
I’rab jer mempunyai tiga alamat/tanda, yaitu : kasrah, ya’ dan fathah. Kasrah adalah merupakan alamat/tanda i’rab jer asli, sedangkan ya’ dan fathah adalah tidak asli atau disebut niabah (pengganti).
a. Kasrah menjadi tanda/alamat i’rab jer berada pada tiga tempat.
a) Pada isim mufrad
Contoh : مررت بمحمّدٍ
b) Pada jamak taksir
Contoh : مررت برجالٍ
c) Pada jamak muannats salim
Contoh : مررت بمسلمات
b. Ya’ menjadi alamat/tanda i’rab jer berada pada tiga tempat.
Ø Pada isim tastniah
Contoh : مررت برجلين
Ø Pada jamak mudzakar salim
Contoh :مررت بمسلمين
Ø Pada asmaul khamsah
Contoh : مررت بأبيك ، مررت بأخيك
c. Fathah menjadi alamat/tanda i’rab jer berada pada satu tempat, yaitu pada isim ghoiru munshorif (إسم غير منصرف)
Contoh : مررت بأحمدَ ، مررت بمساجد
4) I’rab jazm
Jazm mempunyai dua alamat/tanda, yakni : sukun (mati) dan al-hadzfu (membuang). Sukun menjadi alamat i’rab jazm yang asli sedang al-hadzfu maenjadi alamat niabah.
a. Sukun menjadi alamat/tanda i’rab jazm berada pada satu tempat, yaitu pada fi’il mudlori’ yang shohihul akhir yang kemasukan huruf jazm.
Contoh : لم ينصرْ ، لم يضربْ
b. Al-hadzfu menjadi alamat/tanda i’rab jazm berada paa dua tempat.
Ø Pada fiil mudlori’ yang mu’tal akhir (بمعتل الأخر) yaitu fi’il mudlori’ yang pada akhir kalimahnya berupa alif, wawu atau ya’, dengan membuang huruf ilat.
١) – لم يخشَ
٢ ) – لم يدع
٣ ) – لم يرمِ
Ø Pada af’alul khamsah yaitu dengan membuang nun. [10]
Contoh :
لم يضربوا ، لم يضربا ، لم تضربوا ، لم تضربا ، لم تضربى
Sampai di sini kita telah selesai membahas tentang i’rab (الإعراب) beserta bagian-bagiannya, yang meliputi i’rab rafa’, i’rab nashab, i’rab jer dan i’rab jazm sekaligus membahas fungsi dan kedudukannya masing-masing, di mana pada i’rab tersebut mempunyai ciri-ciri, ciri-ciri tersebut mungkin dilekati oleh alamat/tanda yang asliyah maupun niabah.
Selanjutnya pembahasan ini akan dilanjutkan dengan mengungkapkan kalimah/kata mu’rab dengan masing-masing tanda i’rabnya. Apakah kalimah tersebut menggunakan harokat secara jelas pada perubahan akhir kata itu, ataukah perubahan itu menggunakan huruf.
1. Kalimah (kata) mu’rab yagn perubahannya ditandai dengan harakat dlomah, fathah, kasrah dan sukun. Kalimah yang tanda i’rabnya dengan harakat ada empat yaitu : isim mufrad, jamak taksir, jamak muannats salim, dan fiil mudlori’ yang huruf akhirnya tidak bertemu dengan sesuatu. Kalimah tersebut dirafa’kan dengan dlomah, dinashabkan denga fathah, dijerkan dengan kasrah dan dijazmkan dengan sukun. Kecuali tiga hal yaitu :
Pada jamak muannats salim dinashabkan dengan menggunakan alamat/tanda kasrah, isim ghoiru munshorif dijerka dengan tanda fathah dan fiil mudlori’ yang mu’talul akhir dijazmkan dengan membuang huruf akhir.
2. Kalimah/kata mu’rab yang perubahannya di tandai dengan huruf ada empat.
a. Isim tasniah
b. Jamak mudzakar salim
c. As-maul khamsah
d. Af-alul khamsah
a) Isim tasniah alamat/tanda rafa’nya dengan alif dan tanda nasab serta jernya dengan huruf ya’.
b) Jamak mudzakar salim, tanda rafa’nya dengan huruf wawu dan tanda nashab serta jernya dengan huruf ya’
c) Asmaul khamsah, tanda rafa’nya dengan huruf wawu, tanda nashabnya dengan huruf alif dan tanda jernya dengan huruf ya’
d) Af’alul khamsah, tanda rafa’nya denan nun dan tanda nashab dan jazmnya dengan membuang nun.
القاعدة
للرفع أربع علامات : ١ ) الضمّة ، ٢ ) والواو ، ٣ ) والألف ، ٤ ) والنّون
الرّفع
أصلية الضمّة : نيابة : واو ، الف ، نون
١ – فأمّا الضمّة فتكون علامة للرّفع فى أربعة مواضع
١ ) فى الإسم المفرد ، نحو : جاء زيدٌ
٢ ) وجمع التكسير ، نحو : جاء الرجالُ
٣ ) وجمع مؤنث السالم ، نحو : جاءت المسلماتُ
٤ ) والفعل المضارع الذي لم يتّصل بأخره شيئ ، نحو : يضربُ
٢ – وامّا الواو فتكون علامة للرّفع فى موضعين
١ ) فى الجمع المذكر السالم ، نحو : جاء المسلمون ، جاء المعلّمون
٢ ) وفى الأسماء الخمسة وهي أبوك ، أخوك، حموك ، فوك، ذومال. نحو : جاء أبوك
٣ ) وأمّا الألف فتكون علامة للرفع ، فى الإسم التثنية خاصّة ، نحو : جاء الرجلان
٤ ) وأمّا النون فتكون علامة للرفع فى الفعل المضارع إذا اتّصل به ضمير التثنية أو ضمير المؤنّثة المخاطبة (أفعال الخمسة ، نحو : يفعلان ، تفعلان ، يفعلون ، تفعلون ، تفعلين).
وللنصب خمس علامات ١ ) الفتحة، ٢ ) والألف ، ٣ ) والياء ، ٤ ) والكسرة ، ٥ ) وحذف النون
النّصب
أصلية : الفتحة ، نيابة : ألف ، كسرة ، ياء ، حذف النون
١ – وأمّا الفتحة فتكون علامة للنّصب فى ثلاثة مواضع :
١ ) فى الإسم المفرد نحو : رأيت رجلاً
٢ ) وجمع التكسير نحو : رأيت رجالاً
٣ ) والفعل المضارع اذا دخل عليه ناصب ولم يتّصل بأخره شيئ . نحو : لن يقوم
٢ – وأمّا الألف فتكون علامة للنصب ، فى الأسماء الخمسة فقط، نحو : رأيت أباك ، أخاك وما أشبه ذالك
٣ – وأمّا الكسرة فتكون علامة للنصب فى جمع المؤنث السالم فقط ، نحو : رأيت المسلماتِ
٤ – وأمّا الياء فتكون علامة للنصب فى التثنية نحو : رأيت المسلمَينِ ، وجمع المذكر السالم نحو: رأيت المسلمِيْنَ
٥ – وأمّا حذف النون فتكون علامة للنصب فى الأفعال التى رفعها بثبات النون (أفعال الخمسة) نحو : لن يضربا ، لن يضربوا ، لن تضربا ، لن تضربوا ، لن تضربي.
للخفض
أصلية : كسرة نيابة : ياء ، فتحة
١ – وأمّا الكسرة فتكون علامة للخفض فى ثلاثة مواضع :
١ ) فى الإسم المفرد المنصرف نحو : مررت بزيدٍ
٢ ) وجمع التكسير المنصرف نحو : مررت برجالٍ
٣ ) وجمع المؤنث السالم نحو : مررت بمسلماتٍ
٢ – وأمّا الياء فتكون علامة للخفض فى ثلاثة مواضع
١ ) فى الأسماء الخمسة ، نحو : مررت بأبيك وأخيك
٢ ) فى تثنية الأسماء ، نحو : مررت برجُلَينِ
٣ ) فى الجمع المذكر السالم نحو : مررت بمسلِمِيْنَ
٣ – وأمّا الفتحة فتكون علامة للخفض فى الإسم الذى لاينصرف نحو : مررت بأحمدَ ، مررت بمساجدَ
وللجزم علامات : ١ ) السكون . ٢ ) الحذف
للجزم
أصلية : سكون ، نيابة الحذف
١ – فأمّا السكون فتكون علامة للجزم فى الفعل المضارع الصحيح الأخر نحو : لم يضرب
٢ – وأمّا الحذف فتكون علامة للجزم :
١ ) فى الفعل المضارع المعتل الأخر نحو : لم يدع ، لم يرم ، لم يخش
٢ ) والأفعال التى رفعها بثبات النون (أفعال الخمسة) نحو : لم يضربا ، لم يضربوا ، لم تضربوا ، لم تضربي
المعربات قسمان :
- قسم يعرب بالحركات
- قسم يعرب بالحروف
كلمة معربة
١ – بالحركات وهي الضمة ، الفتحة ، الكسرة ، السكون
٢ – بالحروف وهي الواو ، والألف ، والنون ، والحذف فالذى يعرب بالحركات أربعة أنواع :
١ ) الإسم المفرد
٢ ) وجمع التكسير
٣ ) وجمع المؤنث السالم
٤ ) والفعل المضارع الذى لم يتّصل بأخره شيئ وكلها ترفع بالضمة وتنصب بالفتحة وتخفض بالكسرة وتجزم بالسكون
وخرج على ذالك ثلاثة أشياء :
١ ) جمع المؤنث السالم ينصب بالكسرة
٢ ) والإسم الّذى لاينصرف يخفض بالفتحة
٣ ) والفعل المضارع المعتل الأخر تجزم بحذف أخره
والّذى يعرب بالحروف ثلاثة أنواع :
١ ) التثنية
٢ ) وجمع المذكر السالم
٣ ) والأسماء الخمسة
٤ ) والأفعال الخمسة
فأمّا التثنية فترفع بالألف وتنصب وتخفض بالياء ، وأمّا جمع المذكر السالم فيرفع بالواو وينصب ويحفظ بالياء ، وأمّا أفعال الخمسة فترفع بالنون وتنصب وتجزم بحذفها .
التمرينات
الكلمات التى تحتها خطّ فيما يأتى معربة ، فبين علامات إعرابها !
١ – اعمل لتجد لك مكانا فى هذه الحياة
٢ – الحياء كفاح
٣ – هزم الجيس الأعداء فى ميادين القتال
٤ – لاتقصر فى واجبك
ضع كل إسم مايأتى فى ثلاثة جمل من انشائك بحيث يكون مرفوعا مرة ومنصوبا اخرى ومجرورا ثالثة
١ ) الإتحاد . ٢ ) الجهاد . ٣ ) العمل
ضع محل الكلمة من الكلمات المبنية الأتية فى جملة المفيدة وبين حالة بنائها !
١ – الّذى ٢ – مسجد
٣ – هذه ٤ – من
مثل ما يأتى فى جملة مفيدة !
١ – فعل مبني على الفتحة
٢ – إسم مبني على الفتح
٣ – حروف مبني على السكون
BAB IV
FI’IL MUJARROD DAN MAZID
A. FI’IL MUJARRAD
1. Pengertian Fi’il Mujarrad
المجرد ماكانت جميع حروفه أصلية
Artinya :
Fi’il mujarrad adalah fi’il (kata kerja) yang semua hurufnya masih asli (belum mendapatkan huruf tambahan).
2. Macam-macam fi’il mujarrad
Fi’il mujarrad ditinjau dari segi banyaknya huruf asli dibagi menjadi dua bagian yaitu : fi’il tsulasi mujarrad dan fi’il ruba’i mujarraod.
a. Fi’il tsulasi mujarrad adalah fi’il yang terdiri dari tiga huruf asli. Dan pada fi’il tsulasi mujarrad ini mengikuti enam wazan dengan bentuk sebagai berikut :
1) Mengikuti wazan atau bentuk dengan tanda fathah dan dlomah.
2) Mengikuti wazan dengan tanda fathah dan kasrah.
3) Mengikuti wazan dengan tanda fathah dan fathah.
4) Mengikuti wazan dengan tanda dlomah dan dlomah.
5) Mengikuti wazan dengan tanda dlommah dan dlommah.
6) Mengikuti wazan dengan tanda kasrah dan kasrah.
Untuk lebih jelasnya marilah kita perhatikan pada penjelasan berikut ini dan contoh-contohnya.
Keterangan :
Pertama, yang dimaksud dengan fi’il tsulasi mujarrod mengikuti wazan dengan tanda fathah dan dlomah adalah bahwa pada ‘ain fi’il madlinya dibaca fathah sedang pada ‘ain fi’il mudlori’nya dibaca dlommah.
Coba kita ingat-ingat kembali bhawa pada keterangan di atas fi’il tsulasi mujarrod terediri dari tiga huruf yang masih asli seluruhnya. Tiga huruf tersebut, huruf yang pertama disebut fa’ fi’il (فأ فعل), huruf yang kedua disebut ‘ain fi’il (عين فعل), sedang huruf yang ketiga disebut lam fi’il (لام فعل).
Tanda fathah dan dlomah ini terdapat pada wazan fa’ala (فعل) yaf’ulu (يفعل).
Contoh : نصر ، ينصر
Pad acontoh tersebut anda bisa memperhatikan kata نصر, dimana pada kata tersebut ‘ain fi’ilnya dibaca fathah, sedangkan pada kata ينصر ain fi’ilnya dibaca dlommah.
Jadi secara mudah dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan tanda fathah dan dlommah pada wazan ini adalah tanda fathah pada ain fi’il dari fi’il tsulasi mujarrod bentuk madlinya, dan tanda dlommah pada ain fiilnya dalam fi’il mudlori’.
Pada penjelasan pertama ini, apabila anda telah benar-benar memahami dengan sempurna, maka anda akan dapat memahami juga pada tanda-tanda bentuk yang lain dalam pembahasan ini.
Penjelasan di atas dapat anda jadikan patokan untuk mencoba memahami pada bentuk-bentuk lain, hanya tinggal memperhatikan tanda-tanda yang harus diikuti.
Kedua, fi’il tsulasi mujarrod dengan tanda fathah dan kasrah mengikuti wazan fa’ala yaf’ilu فعل ، يفعل
Contoh : ضرب ، يضرب
Pada kalimat (kata) ini anda menemukan fi’il tsulasi mujarrod, dimana ain fi’il madlinya difathah sedang pada ain fi’il mudlori’nya di kasrah.
Ketiga, mengikuti tanda fathah dan fathah, yakni mengikuti wazan fa’ala yaf’alu فعل ، يفعل
Contoh : فتح ، يفتح
Pada contoh ini anda menjumpai fi’il tsulasi mujarrod dengan tanda fathah ada ain fi’il madlinya dan begitu pula ada ain fi’il mudlori’nya.
Keempat mengikuti tanda kasrah dan fathah, yaitu mengikuti wazan fa’ala yaf’alu فعل ، يفعل
Contoh : فرح ، يفرح
Penjelasannya dapat anda perhatikan diatas dan begitu seterusnya.
Kelima, tanda dlommah dan dlommah mengikuti wazan fa’ula yaf’ulu فعُل ، يفعُل
Contoh : كرُم ، يكرُم
Keenam, tanda kasrah dan kasrah mengikuti wazan fa’ila yaf’ilu فعِل ، يفعِل
Contoh : حسِب ، يحسِبُ
b. Fi’il ruba’i mujarrod adalah fi’il yang terdiri dari empat huruf dan semuanya asli. Sedang pada fi’il ruba’i mujarrod hanya terdapat satu wazan saja, yakni mengikuti wazan fa’lala فعلل
Contoh : دخرج ، يدخرج
B. FI’IL MAZID
1. Pengertian fi’il mazid
المزيد ما زيد فيه حرف أو أكثر على حروفه الأصلية
Artinya :
Fi’il mazid adalah fi’il yang sudah mendapat tambahan pada huruf aslinya dengan tambahan satu huruf atau lebih.
2. Macam-macam fi’il mazid
a. Tsulasi mazid
Yang disebut dengan fi’il tsulasi mazid adalah fi’il yang sudah mendapatkan huruf tambahan yang berasal dari fi’il tsulasi.
Adapun fi’il tsulasi mazid dibagi menjadi tiga :
1) Fi’il tsulasi mazid dengan satu huruf فعل ثلاثى مزيد بحرف
2) Fi’il tsulasi mazid dengan dua huruf فعل ثلاثى مزيد بحرفين
3) Fi’il tsulasi mazid dengan tiga huruf فعل ثلاثى مزيد بثلاثة أحرف
Penjelasan : pada bentuk fi’il tsulasi mazid dengan satu huruf terdapat tiga bentuk.
1. Bentuk madli af’ala (أفعل)
Yaitu dengan menambahkan huruf hamzah sebekum fa’ fi’il dengan tanda fathah dan fa’ fi’ilnya (أَ) dan (فْ)
Contoh :
كرُم محمّد menjadi أكرم محمد أصحابه
Artinya :
Muhammad mulia. Menjadi “muhammad memuliakan para sahabatnya”
Fi’il tsulasi mujarrod diubah kedalam bentuk madli af’ala biasanya menpunyai arti litta’diyah (mentransitifkan kata kerja).
2. Bentuk madli fa’ala (فعّل)
Yaitu denga mentasdidkan atau dengan memberi tanda tasydid pada ain fi’ilnya (ّ) ini tanda tasydidnya.
Perubahan fi’il tsulasi mujarrod kedalam bentuk madli fa’ala (فعّل), mempunyai maksud.
a) Litta’diyah (mentrasitifkan kata kerja)
Contoh :
فرِح الولد menjadi فرَّح الولد أبواه
Artinya :
Anak itu gembira. Menjadi “ anak itu menggembirakan kedua orang tuanya”.
b) Untuk menunjukkan suatu perbuatan yang diulang-ulang.
Contoh :
قطع الفلاح الحبل menjadi قطّع الفلاح الحبل
Artinya :
Petani memotong tali. Menjadi “ petani itu memotong-motong tali”.
3. Bentuk madli faa’ala (فاعل)
Yaitu dengan menambah huruf alif sesuda fa’ fi’il. Perubahan fi’il tsulasi mujarrod kedalam bentuk madli faa’ala (فاعل) untuk menunjukkan bahwa dua orang atau lebih melakukan pekerjaan bersekutu.
Contoh :
نظر عليّ فاطمة menjadi ناظر عليّ فاطمة
Artinya :
Ali memandang fatimah. Menjadi “ali dan fatimah saling berpandangan”.
Pada bentuk fi’il tsulasi mazid dengan dua huruf terdapat lima bentuk.
1. Mengikuti wazan tafa’ala (تفعّل)
Yaitu dengan menambah huruf ta’ (ت) sebelum huruf fa’ fi’il dengan tanda fathah, dan memberi tanda tasydid (ّ) pada ain fi’ilnya.
Fi’il tsulasi mujarrod mengikuti bentuk (تفعّل) dapat mempunyai arti.
a) Untuk menunjukkan hasil dari pekerjaan yang sudah dilakukan.
Contoh :
كسر الإبريق menjadi كسّرت الإبريق فتكسّر
Artinya :
Kendi itu pecah. Menjadi “saya memecah-mecah kendi maka kendi itu menjadi pecah-pecah.
b) Untuk menunjukkan suatu usaha yang sungguh-sungguh sehingga pekerjaannya berhasil.
Contoh :
شجع السّارق menjadi تشجّع السّارق
Artinya :
Pencuri itu berani. Menjadi “pencuri itu memberankan diri”.
2. Mengikuti wazan tafaa’ala (تفاعل)
Yaitu dengan menambah huruf ta’ (ت) sebelum fa’ fi’il dengan tanda fathah, dan menambah huruf alif (ا) sesudah fa’ fi’il.
Fi’il tsulasi mujarrod diubah kedalam bentuk tafaa’ala mempunyai arti :
a) Untuk menunjukkan persekutuan antar dua orang atau lebih pada suatu pekerjaan tertentu.
Contoh :
بعد التّلميذ تلميذة menjadi تباعد التّلميذ تلميذةً
Artinya :
Siswa menjauhi siswi. Menjadi “siswa dan siswi saling menjauhi”.
b) Menunjukkan berpura-pura
Contoh :
مرض التّلميذ menjadi تمارض التلميذ
Artinya :
Siswa itu sakit. Menjadi “siswa itu berpura-pura sakit”.
3. Mengikuti wazan infa’ala (إنفعل)
Yaitu dengan menambah huruf hamzah (أ) dan nun (ن) sebelum fa’ fi’il. Huruf hamzahnya di kasrah sedang huruf nun-nya disukun.
Bentuk ini menunjukkan hasil dari suatu pekerjaan yang dilakukan.
Contoh :
كسرتْ الزُّجاجة menjadi كسرتُ الزّجاجة فانكسرتْ
Artinya :
Kaca itu pecah. menjadi “saya memecah kaca sehingga kaca itu menjadi pecah”.
4. Mengikuti wazan ifta’ala (إفتعل)
Yaitu dengan menambah huruf hamzah dengan tanda kasrah sebelum fa’ fiil yang disukun dan dengan menambah huruf ta’ yang difathah sesudah fa’ fi’il.
Bentuk ini mempunyai makna seperti pada nomor tiga.
Contoh :
غلقت الباب menjadi غلقت الباب فاغتلق
Artinya :
Saya menutup pintu. Menjadi “saya menutup pintu maka pintu itu menjadi tertutup”.
5. Mengikuti wazan if’alla (إفعلّ)
Yaitu dengan menambah huruf hamzah sebelum fa’ fi’il yang disukun dan memberi tasydid pada lam fi’il. Tanda hamzahnya adalah kasrah.
Fi’il tsulatsi mujarrod mengikuti wazan if’alla (إفعلّ) memberikan arti :
a) Untuk menunjukkan lishairurah (menjadi suatu sifat yang tertentu).
Contoh :
بيض الخدّ menjadi إبيضّ الخدّ
Artinya :
Pipi itu putih. Menjadi “pipi itu menjadi putih”.
b) Untuk menyangatkan (mubalaghah).
Contoh “
سود الشعر menjadi إسودّ الشعر
Artinya :
Rambut itu hitam. Menjadi “rambut itu sangat hitam”.
Pada tsulasi mazid dengan tiga huruf (mendapatkan tambahan tiga huruf) terdapat empat bentuk. Adapun mengenai huruf tambahannya mungkin terdapat di depan, di tengah atau di belakang fi’il tsulatsi mujarrod, untuk itu agar anda dapat memahami benar-benar maka perhatikanlah pada penjelasan berikut.
1) Fi’il tsulatsi mujarrod mengikuti wazan istaf’ala (إستفعل)
Diikutkan pada wazan ini biasanya mempunyai maksud meminta atau mengharapkan.
Contoh :
غفر اللهُ menjadi إستغفر الله
Artinya :
Allah mengampuni. Menjadi “aku memohon ampunan Allah”.
2) Mengikuti wazan if’au’ala (إفعوعل)
Fi’il tsulasi mujarrod diikutkan pada wazan ini mempunyai arti muballaghah (menyangatkan).
Contoh :
حدب الرجل menjadi إحدودب الرجل
Artinya :
Orang itu bungkuk. Menjadi “orang itu sangat bungkuk”.
3) Mengikuti wazan if’auwala (إفعوّل)
Diikutkan pada wazan ini mempunyai arti muballaghah (مبالغة) menyangatkan.
Contoh :
خرط الشمس menjadi إحروّط شعاع الشمس
Artinya :
Matahari redup. Menjadi “matahari sangat redup (suram sekali).
4) Mengikuti wazan if’aalla (إفعالّ)
Untuk mubalaghah (مبالغة) menyangatkan.
Contoh :
حمر الوجه menjadi إحمارّ الوجه
Artinya :
Wajah itu merah. Menjadi “wajah itu sangat merah”.
b. Ruba’i mazid
Yang dimaksud dengan ruba’i mazid adalah fi’il yang terdiri dari empat huruf asli dengan mendapatkan huruf tambahan.
1) Mazid biharfin (مزيد بحرف), fi’il ruba’i mujarrod yang mendapatkan satu huruf tabahan mengikuti wazan tafa’lala (تفعلل) dan pada fi’il ruba’i mujarrod diikutkan wazan ini mempunyai arti muthawwa’ah (menjadi).
Contoh :
دخرج الحجر menjadi تدخرج الحجر
Artinya :
Batu itu bergulung. Menjadi “batu itu menjadi mengguling”
2) Mazid biharfain (مزيد بحرفين)
Fi’il ruba’i mujarrad dengan tambahan dua huruf mengikuti dua wazan.
a) Mengikuti wazan if’alalla (إفعللّ)
Diikutkan wazan ini mempunyai arti mubalaghah (مبالغة) menyangatkan.
Contoh :
قشعرّ الجسد menjadi إقشعرّ الجسد
Artinya :
Badan itu menggigil. Menjadi “badan itu sangat menggigil.
b) Mengikuti wazan if’anlala (إفعنلل)
Diikutkan wazan ini mempunyai arti muthawwa’ah (menjadi).
Contoh :
حرجم الإبل menjadi حرجم الإبل فاحرنجم
Artinya :
Onta itu berkumpul. Menjadi “saya mengumpulkan onta sehingga onta itu berkumpul”.
التمرينات
بيّن الثلاثى المجرّد والثلاثى المزيد فيه ، والرباعى المجرّد ، والرباعى المزيد فيه مما نأتى بيان الزيادة !
اسرع – حمل – احتمل – دعا – اجتمع – استغفر – جاع – وسوس – اعطى – اخرج – عظّم – احضرّ – تابع – تعاظم – استعان – يتسابق – تصالح – اطمأنّ – بايع – استولى – ود – فرّح – فرح – تقهقر – يتكلّم – ردّ – حمد – استنجد – يكرم.
كوّن جملة فيها فعل ثلاثى مزيد فيه بحرفين وجملة فيها فعل رباعى مزيد فيه بحرف !
استخرج الفاعل من الجمل الأتية ثمّ اضبطه بالشكل !
١ ) – يعيش السّمك فى الماء
٢ ) – نحب الأفيال السّكر
٣ ) – يمتد بين مكة والمدينة طريق مرصوف
٤ ) – تتغذّى دودة القزّ على ورق التوت
٥ ) – بقصد بيت الله كلّ عام حجاج كثيرون
٦ ) – يحافظ رجال الشّرطة على الأمن
حوّل الجملة الإسمية الأتية إلى جمل فعلية ، ثمّ بين فاعل كلّ فعل . واضبطه بالشّكل !
١ – الرّياض امتلأت بالأبنية الحديثة
٢ – الفاكهة تكثر على ساحل البحر الأبيض
٣ – الأصحاء ينامون نوما هادئا
٤ – الممرضات يساعدون الأطباء فى عملهم
٥ – الطيارة التفاثة تسير يسرعة فائقة
٦ – الرجل القنوع يرض بالسّير
رتّب الكلمات كل سطر مما يأتى بحيث تصبح جملة فعلية ثمّ بين فاعل كل فعل مع ضبطه !
١ – بالمدينة – بساتين – يحيط – كثيرة
٢ – أهل – من – الزّرقاء – عين – يشرب – المدينة
٣ – الرسول – قباء – مسجد – أسس
٤ – ايها – فى – والحبوب – الفاكهة – تكثر
٥ – وزارة – مصانع – اسست – الدّفاع – للأسلحة
٦ – الرياضة – الجسم – تقوى – البدانية – والعقل
BAB V
MARFU’ATUL ASMA’
(ISIM-ISIM YANG DIBACA RAFA’)
A. MUKADDIMAH
Pada bab tiga kita telah banyak membahas tentang I’rab dan bina’, dan kita masih teringat tentang alamat atau tanda I’rab dan bina’, yakni : I’rab mempunyai empat alamat dan bina’ juga mempunyai empat alamat.
Salah satu dari tanda I’rab adalah rafa’ yang dapat menjadi alamat pada fi’il dan isim. Akan tetapi pada pembahasan ini dikhususkan pada penjelasan isim-isim yang dibaca rafa’.
B. ISIM YANG DIBACA RAFA’
1. Fa’il (فاعل)
الفاعل : إسم مرفوع يأتى بعد الفعل ويدلّ على الذى فعل الفعل
Artinya :
Fa’il adalah isim yang dibaca rafa’ yang tempatnya berada sesudah kata kerja dan menunjukkan orang/sesuatu yang menunjukkan pekerjaan. [11]
Contoh : الأمثلة
a) Anak itu bangun pagiإستيقظ الطفل ملكرا
b) Burung itu berkicau di atas dahan يغرّد الطيور على الغصن
c) Guru itu hadir pada jam tujuh حضر الأستاذ فى السّاعة السّابعة
Setelah kita telaah bahwa pada contoh-contoh tersebut di atas ditemui kata-kata seperti الأستاذ ، الطّيور ، الطّفل yang terletak sesudah kata kerja, yakni setelah kata حضر ، يغرّد ، استيقظ maka kata-kata الأستاذ ، الطّيور ، الطّفل tersebut, disebut isim fa’il dan harus dibaca rafa’ karena mempunyai kedudukan sebagai pelaku dalam pekerjaan tersebut.
Dan perlu dimengerti bahwa susunan kalimat yang terdiri dari fi’il dan fa’il, hal ini di dalam bahasa Arab disebut dengan jumlah fi’liyah.
فاعل | فعل | الأمثلة |
الطفل الطيور الأستاذ | استيقظ يغرّد حضر | استيقظ الطفل يغرّد الطيور حضر الأستاذ |
Adapun isim fa’il di bagi menjadi dua fa’il isim dhohir dan fa’il isim dhomir.
Contoh :
Ø Muahammad makan nasi يأكل محمّد الرز
Ø Saya makan nasi أكلت الرز
Pada contoh ini kita menemui kata محمد yang berada setelah يأكل maka kata محمد tersebut sebagai fa’ilnya dan karena berupa kalimah yang jelas (bukan kata ganti) maka disebut fa’il isim dhohir.
Sedang pada nomor dua kita menemukan kata أكلتُ yang bersambung dengan huruf ta’ diberi tanda dlommah (تُ) yang artinya adalah saya atau aku dan merupakan salah satu dari bentuk kata ganti (dlomir) maka ini yang disebut dengan fa’il isim dlomir.
2. Naibul fa’il (نائب الفاعل)
نائب الفاعل : إسم مرفوع حلّ محلّ الفاعل بعد حذفه
Artinya :
Naibul fail adalah isim yang dibaca rafa’ yang menempati tempat fa’il setelah fa’ilnya dibuang.[12]
Contoh :
· ضرب محمد الكلب menjadi ضرب الكلب (bentuk mandli) يُضربُ الكلبُ (bentuk mudlori’)
· قطع زيد الغصن menjadi قطع الغصن (bentuk madli) يقطع الغصن (bentuk mudlori’)
· Artinya :
Muhammad telah memukkul anjing menjadi “anjing itu telah dipukuli” (madli). “Anjing itu sedang dipukuli” (mudlori’)
· Artinya :
Zaid telah memotong dahan menjadi “dahan itu telah dipotong” (madli). “dahan itu sedang dipotong” (mudlori”).
Pada contoh di atas kita menemukan kata الكلب dan الغصن yang kedudukannya sebagai maf’ul bih مفعول به atau sebagai pelengkap penderita atau yang dikenai pekerjaan.
Adapun yang menjadi pelakunya adalah Muhammad dan Zaid yang berkedudukan sebagai fa’il pada kalimat aktif (mabni maklum). Namun setelah fa’ilnya dibuang dan pada susunan kalimat tersebut dibentuk pasif (mabni majhul) sehingga tidak jelas siapa yang menjadi pelakunya. Akhirnya kata-kata الكلب dan الغصن menduduki tempat fa’il dan dibaca rafa’, maka sesuai dengan pengertian di atas hal ini disebut naibul fa’il artinya maf’ul bihnya menempati tempat fa’il karena ada perubahan bentuk dari mabni maklum (aktif) ke mabni majhul (pasif).
Untuk membentuk susunan kalimat mabni majhul (pasif) dengan memberi tanda dlommah pada huruf awalnya dan tanda kasrah sebelum huruf akhir, untuk fi’il madli (bentuk madli) dan dengan memberi tanda dlommah huruf awalnya serta memberi tanda fathah huruf sebelum huruf akhir untuk fi’il mudlori’ (bentuk mudlori’).
نائب الفاعل | فعل مبنى مجهول | الأمثلة |
محمد أحمد فاطمة عائشة | ضُربَ يُضربُ ضُربتْ تُضربُ | ضُربَ محمد يضرب أحمد ضربت أحمد تضرب عائشة |
3. Mubtadak dan khobar
المبتداء : هو الإسم المرفوع الذى يقع فى أول الكلمة وهو نوعين ظاهرا و مضمر
والخبر : هو الإسم المرفوع الذى تتمّ به الجملة
Artinya :
- Mubtada’ adalah isim yang dibaca rafa’ yang terletak (berada) pada awal susunan kalimat (jumlah). [13]
- Khobar adalah isim yang dibaca rafa’ yang berfungsi sebagai penyempurna dalam susunan kalimat.
Contoh :
الخبر | المبتداء | الأمثلة |
حاضر حاضرة قائمان قائمون قائمات | الأستاذ الأستاذة الرجلان المسلمون المسلمات | الأستاذ حاضر الأستاذة حاضرة الرجلان قائمان المسلمون قائمون المسلمات قائمات |
Apabila kita perhatikan pada contoh di atas ini terdapat kata-kata المسلمات ، المسلمون ، الرجلان ، الأستاذة ، الأستاذ kata-kata tersebut dibaca rafa’ dan berada di awal susunan kalimat, maka kata-kata itu disebut mubtada’. Sedangkan kata-kata حاضر ، حاضرة ، قائمان ، قائمون ، قائمات juga dibaca rafa’ dan mempunyai kedudukan sebagai penyempurna kata-kata sebelumnya, maka kata-kata itu disebut dengan khobar.
Susunan mubtada’ dan khobar dalam istilah bahasa Arab disebut denagn “jumlah ismiyah” جملة إسمية . mubtada’ dibagi menjadi dua yaitu mubtada’ isim dlohir dan mubtada’ isim dlomir. Mubtada’ isim dhohir adalah mubtada’ yang berupa kalimah yang menunjukkan terhadap subjek yang jelas misalnya : المسلمات ، المسلمون ، الرجلان ، الأستاذة ، الأستاذ dan sebagainya.
Adapun mubtada’ yang terdiri dari isim dlomir (kata ganti) yitu :
هو ، هما ، هم
هي ، هما ، هنّ
أنت ، أنتما ، أنتم
أنتِ ، أنتما ، أنتنّ
أنا ، نحن
4. Isim kana إسم كان
Pada susunan mubtada’ dan khobar dapat dimasuki kana (كان)setelah kana (كان) masuk dalam susunan mubtadak dan khobar, maka kedudukan mubtada’ trersebut berubah menjadi isimnya kana إسم كان dan kedudukan khobar tersebut juga menjadi khobarnya kana خبر كان
Adapun perubahan i’rab yang terjadi adalah, bahwa pada susunan mubtadak khobar kedua-duanya dibca rafa’, akan tetapi setelah kemasukan kana كان, yang semula menjadi mubtada’ berubah menjadi isimnyakana dan tetap dibaca rafa’ sedang khobarnya dibaca nasab.
خبره | اسمه | فعل ناسخ | المثال |
ناجحا شجاعة مضطربا قاضية | التلميذ التهور البحر الضربة | كانت ليست ظلّ كانت | كانت التلميذ ناجحا ليست التهور شجاعة ظلّ البحر مضطربا كانت الضّر بة قاضية |
Kalau kita perhatikan pada contoh di atas terdapat susunan mubtada’ khobar yang dimasuki kata كانت ، ظل ، ليس ، كان kemudian mubtadaknya dibaac rafa’ sedang khobarnya dibaca nasab. Sesuai dengan penjelasan di atas bahwa mubtadaknya berubah menjadi isimnya kana dan khobarnya menjadi khobarnya kana. Adapun kata-kata امسى ، أضحى ، اصبح itu adalah menjadi saudaranya kana yang juga mempunyai fungsi yang sama apabila telah masuk dalam jumlah.
Sedang saudara-saudaranya kana yang lengkap adalah : كان ، أصبح ، أضحى ، ظل ، امسى ، بات ، صار ، ليس ، مازل ، مابرح ، ماانفك ، مافتئ ، مادام.
5. Khobar inna (خبر إنّ)
Sesuai dengan penjelasan item nomor empat di atas bahwa mubtadak khobar apabila kemasukan kana dan saudara-saudaranya, mubtadaknya menjadi isim kana dan khobarnya menjadi khobar kana, begitu pula terjadi apabila inna dan saudara-saudaranya memasuki jumlah mubtadak khobar maka kedudukannya menjadi isimnya inna dan khobarnya inna. Hanya saja bedanya, apabila kana masuk dalam jumlah mubtadak khobar isimnya tetap dibaca rafa’ dan khobarnya dibaca nasab, akan tetapi untuk inna apabila masuk dalam jumlah mubtadak khobar, isimnya inna dibaca nasab dan khobarnya dibaca rafa’.
Adapun yang menjadi saudara-saudaranya inna (إنّ) adalah : لعلّ ، ليت ، لكنّ ، كأن ، أنّ dan masing-masing mempunyai fungsi :
a) إنّ dan أنّ berfungsi untuk menguatkan للتوكيد
b) كأن berfungsi untuk menyerupai للتشبيه
c) لكنّ berfungsi untuk menyangkal للإستدراك
d) ليت berfungsi untuk mengharap yang jauh terjadinya للتمنى
e) لعلّ berfungsi untuk mengharap yang dekat terjadinya للترجى
Contoh : الأمثلة
١ – الله سميع إنّ اللهَ سميع
٢ – الأستاذ شمس كأنّ الأستاذَ شمس
٣ – الشمس طالعة ليت الشمسَ طالعةُ فى الليل
٤ – الرجال كسلان الرجال كسلانُ ولكنّ نقوده كثيرة
٥ – الكتب نافعة لعل الكتب نافعة
التمرينات
١ – حول الأفعال التى فى الجمل الأتية إلى أفعال مبنية المجهول ونظم الجمل على هذه الأساس !
١)- شرب الولد اللّبن ٥ )- يدخر المقتصد المال
٢ )- قتل الصّيد الذئب ٦ )- جمع الأولاد القطن
٣ )- جرح القطّ أخاك ٧ )- يسقى الخادم الطّفلين
٤ )- فهمنا الدرس ٨ )- يساعد المدرس الطالبة
٢ – ضع نائب فاعل مناسب لكلّ فعل من الأفعال الأتية بعد نائبه للمجهول!
يزرع – حبس – نظر – تنظّف – يرحم – شكرت – نصر – يسمع – يعظم – يساعد
٣ – ضع الأسماء الأتية فى جمل بحيث يكون كلّ إسم نائب فاعل !
الحرطوم – الغصن – الورد – المائدة – المجتهدون
٤ – اتمم الجمل الأتية بذكر الحبر المناسب مع ضبطه بالشكل !
١ – مازال السلام ........... ٣ – انت وطنى مادمت
٢ – اصبحت مصر .......... ٤ – ظلت المحبة
٥ – اتمم الجمل الأتية بذكر الاسم المناسب !
١ ) اصبح ..... سائدا ٣ ) ليس فى بلادنا ......
٢ ) مازال ......مثاليا ٤ ) صار ...... قويّا
٦ – املاء المكان الخالى فيما يأتى بشبه جملة وبين نوعه !
١ ) كان الجندى .... ٣ ) لايزال اللجام ..... الحصان
٢ ) مازالت الفواصة .... ٤ ) اصبح المصر .....
٧ – اخذف كان أو احدى أخواتها ، واكتب الجملة صحيحة مع الضبت بالشكل !
١ ) كان القمر ساطعا
٢ ) اصبحت العدالة شاملة
٨ – ضع مبتداء مناسبا فى المكان الخالى تما يأتى !
١ ) .....أكبر بلد عربى ٥ ) ..... زعيم إندونسيا
٢ ) ..... ملك المغرب ٦ ) ..... قبلة ثانية
٣ ) ..... أقوياء فى عقيدتهم ٧ ) ..... شئوم
٤ ) ..... معان ٨ ) ..... النبي فضليات النساء
٩ – ضع خبرا مناسبا فى المكان الخالى مما يأتى !
١ – العلماء ............
٢ – الجامعة العربية ..............
٣ – الاقدار ............
٤ – اخوك .........
٥ – الأمور .............
٦ – السد العالى .........
١٠ – إجعل كل اسم مما يأتى مبتداء واخبر عنه بخبر مناسب !
الخالية – جو – الجمل – الإتحاد
١١ – اتمم الجمل الأتية بذكر الخبر المناسب مع ضبطه بالشكل !
١ ) مازال الشرق ناهضا
٢ ) ظل طلاب العلم قدوة
٣ ) ليس الأمر هينا
١٢ – ضع اسما مناسبا لأن اواحدى أخواتها فى المكان الخالى واضبطه بالشكل!
١ – ان ..... عادل
٢ – لعل ..... طالع
٣ – ليت ..... بارد
٤ – الشمس طالعة لكن ..... نازل
٥ – علمت انّ ..... مفيد
٦ – كانّ ..... أمّ
١٣ - ضع خبرا مناسبا لإنّ او احدى اخواتها فى المكان الخالى واضبطه بالشكل !
١ – إنّ الصيف .....
٢ – لعلّ التلميذ .......
٣ – ليت البليد .....
٤ – اللحر الأحمر واسع ولكن الماء .....
٥ – عرفت أنّ الطائرة ......
٦ – كأنّ الجمل .....
١٤ – اخذف إنّ او احدى اخواتها من الجمل الأتية ثم اضبطه الجمل بالشكل!
١ – إنّ الظهران مدينة البترول
٢ – لعل المسافر حاضر
٣ – ليت العطلة قريبة
٤ – البحر كبير لكن المراكب صغيرة
٥ – عرفت إنّ الصلاة مطهرة للنفوس
٦ – كأن العلم نور
DAFTAR KEPUSTAKAAN
A. Salaby, Dr. Prof : Ta’limullughoh Al-Arobiyyah, Salim Nabhan, 1973
Departemen Agama RI : Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN, 1976
Husein Sulaiman, Dr. : Dirosatun Tahliliyah Wamawaqifa Tatbiqiyah Fi Ta’limillughoh Al-Arobiyah Waddinal Islam, Darul Ma’arif, 1981
Kamal Mhammad Basar, Dr. : Ilmullughoh Al Am Al Aswad, Darul Ma’arif 1980
Mahmud Aly Saman, Dr. : Attaujuh Fi Tadrisillughoh Al-Arobiyah, Darul Ma’arif 1983
Mahmud Yunus, H. Prof. : Methodik Khusus Bahasa Arab, PT. Hidakarya Agung, Jakarta, 1983
[1] Ahmad Syalaby , Qowa’idul Lughotil ‘arobiyah watatbiq alaiha, Maktabah Nahdloh, Mesir, 1983, hal. 22.
[2] Ahmad Qubaisy, Al-Kamil fil Nahwi wash Shorfi wal i’rob, Darul jail, Beirut, 1979, hal. 5.
[3] Fuad Nikmah, Mulkhasu qow’idul Lughotil Arabiyah Nahdloh, Mesir, 1973, hal. 17.
[4] Ibid., hal. 18
[5] Fuad Nikmah, Mulkhasu qow’idul Lughotil Arabiyah Nahdloh, Mesir, 1973, hal. 17.
[6] Zaki Ali Suathin dan Abdul Sami’ Muhammad Saubatsi, Taisirun Nahwi, Alhaiah al-aammah Lisyum almathabi’ al-amiriyah, 1976, hal. 15.
[7] Ibid., hal. 21
[8] Ibid., hal. 21
[9] Ibid., hal. 15
[10] A. Zaini Dahlan, Matan Jurumiyah, PT. Almaarif, halaman 7-9
[11] Muhsin Ahmad, Abdullah, Jamil Ahmad, Ahmad Abdullah, Minhaj Aljadiid, Darul asfihaani, Mesir, 1967, hal. 60
[12] Hifni bek, op. Cit., hal, 28
[13] Taisirun Nahwi, opcit., hal .119
Terimakasih postingan ilmunya....walau masih puyeng bacanya, dan pemilihan huruf arabnya kurang menarik...
BalasHapussukron. Jazakallahu khairan kastira.....
Mohon izin copast..
BalasHapusBuat dokumen pribadi..
Terima kasih pa Ustadz